Ilustrasi puasa di negara bersalju | Sumber foto: Freepik

Tantangan Puasa Di Berbagai Negara

Izi Roam | 18 Apr 2022

Sebagai negara dengan masyarakat mayoritas Muslim, menemukan masjid di Indonesia bukanlah perkara sulit. Tapi beda cerita bila di negara berbeda seperti di Swiss. Temukan sederet tantangan puasa di berbagai negara

Puasa merupakan suatu kewajiban dalam umat Islam untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak matahari terbit hingga terbenam disertai dengan niat dan syarat tertentu serta berlangsung selama satu bulan penuh.

Di Indonesia, durasi berpuasa umat Islam setiap hari rata-rata 12 jam dan durasi ini akan terus sama di tahun-tahun berikutnya.

Sayangnya, perputaran bumi saat mengelilingi Matahari yang miring, membuat beberapa waktu tertentu, negara-negara di belahan bumi Utara menerima cahaya matahari lebih lama dibanding belahan bumi Selatan. Akibatnya, puasa di kawasan tersebut jadi lebih menantang karena durasi puasa menjadi lebih panjang. Waktu-waktu ini umum terjadi di bulan Maret hingga September.

Dirangkum dari beberapa sumber, berikut adalah sederet tantangan puasa di dunia

Durasi puasa yang lebih panjang

Jika penganut agama Muslim di Indonesia menjalani ibadah puasa dengan durasi yang sama setiap tahunnya, beda cerita dengan umat Islam di belahan dunia berbeda.

Sebetulnya, ada yang lebih cepat, namun banyak juga yang jauh lebih lama. Berikut adalah 5 negara dengan durasi puasa dengan waktu terlama:

  • Rusia 20,45 jam
  • Alaska 19,17 jam
  • Norwegia 18,43 jam
  • Jerman 17,54 jam
  • Inggris 17, 51 jam

Sedangkan durasi puasa tercepat jatuh pada Argentina yang hanya 11 jam saja.

Dilansir dari Voa Indonesia, situs organisasi Assembly of Muslim Jurists of America (AMJA) yang didirakan untuk menanggapi kebutuhan yurisprudensi Islam sesuai dengan standar akademik bagi umat Islam di Barat menyebutkan:

Apabila tidak ada perbedaan waktu atau terdapat jeda yang terlalu pendek yang menyebabkan seseorang tidak memiliki waktu untuk berbuka puasa, ia harus memperkirakan (Waktu) puasa dengan lokasi (negara) yang terdekat (dengan tempat tinggalnya) atau sesuai dengan waktu puasa di Makkah.

Sebut saja Diaspora Muslim Indonesia, Dewi Loges dan Saraswati Yogyantiningtyas yang tinggal di Alaska, Amerika Serikat, berpuasa dengan mengikuti waktu Makkah, sesuai dengan ketetapan masjid setempat. Yang awalnya durasi puasa berkisar 20-22 jam, setelah mengikuti waktu Makkah, warga Muslim Indonesia di Alaska bisa mengikuti durasi puasa dari jam 4:30 hingga 16:45.

Sulitnya mencari makanan halal dan Masjid

Sebagai negara dengan masyarakat yang menganut agama Islam paling banyak, di Indonesia sendiri memang mudah sekali menemukan masjid dan mushola. Tapi beda halnya dengan negara-negara yang justru Muslim adalah agama minoritas di sana.

Dilansir dari travel kompas, seorang WNI yang bermukim di Frauenfeld, Swiss, misalnya. Atau yang akrab disapa Tita. Menurutnya, selain durasi puasanya yang lebih panjang, masjid juga sulit ditemukan.

Memang ada, namun di kota berbeda. Tita dan keluarga harus terlebih dahulu naik kereta ke kota yang bernama Wil yang berada tepat di Zurich itu. Padahal, masjid merupakan tempat ibadah yang diperlukan untuk melakukan tarawih berjamaah dan mendengarkan adzan yang berkumandang.

Karena jarak masjid yang cukup jauh, Tita dan keluarga memutuskan untuk tarawih di rumah dan mendengarkan adzan dari ponsel pintar.

Menjadi minoritas di negara berbeda juga membuat Tita dan WNI Muslim lainnya di sana kesulitan untuk mendapatkan makanan halal, khususnya makanan jadi.

Cuaca yang berbeda

Tak hanya dari durasi dan segudang tantangan jadi minoritas. Berpuasa di negara berbeda juga dituntut untuk beradaptasi dengan suhu dan cuaca yang berbeda pula. Tak jarang WNI Muslim harus menghadapi iklim yang cukup ekstrem termasuk suhu yang sangat panas termasuk cuaca bersalju yang esktrem.